Rabu, 30 November 2016

Jagalah Masa Lapangmu Sebelum Datang Masa Sempitmu

Gantungkanlah harapanmu hari ini. Seekor burung dalam genggaman adalah lebih baik dari pada seribu ekor burung yang masih terbang mengawang. Berprinsiplah bahwa hidup hanya hari ini. Dengan demikian, lakunlah yang terbaik sebelum hari esok datang. Saat pagi datang, bersegeralah untuk meraih kebahagiaan, dan jangan menunggu sore hingg malam datang. Jalanilah hari ini dengan memperbanyak kebaikan, dan janganlah memikirkan hari kemarin yang sudah berlalu, atau hari esok yang belum tentu datang. Sekarang dan hari ini, mulai dari fajar hingga fajar kembali, itulah harimu, dan lakukanlah yang terbaik agar tidak ada penyesalan.

Bayangkanlah bahwa kelapangan hari ini tidak akan kembali esok hari, karena hidupmu tinggal hari ini, dan janganlah terlalu memikirkan dan takut atas bayangan masa depan yang belum tentu kepastiannya. Perhatikan, persembahkan dengan kerja keras, dan berikan yang terbaik untuk hari ini. Shalatlah dengan khusyuk, perbanyak membaca Al-Qur'an, dan dzikir, perbaiki akhlak, seimbangkan antara urusan dunia dan akhirat, perhatikan keadaan sekitar dan kesehatan, serta berbuat baik lah antara sesama manusia.

Aturlah waktu pada hari ini dgn sangat bijak, serta jadikanlah setiap detik, menit, dan jam nya seperti ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya. Perbanyaklah  menanam kebaikan, dan buatlah hasil memuaskan. Nikmatilah hari ini dgn kebaikan dan kebahagiaan, serta ingat dan mohon ampunlah kpd Allah SWT., karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Nikmatilah rezeki yang ada pada hari ini, dan pergunakanlahdengan penuh keridhaan, syukur dan sabar.

Hiduplah pada hari ini dgn kelapangan masanya, dan janganlah bersedih atas kesempitan kemarin, atau bahkan khawatir atas waktu yang akan datang esok hari. Percayalah pada diri sendiri, perbaiki setiap keadaan, kembangkan segala potensi yang ada, gunakan waktu sebaik-nya, dan sucikan diri dengan amal kebaikan. Sungguh, kesempatan kelapangan masa hanya pada hari ini.

Jagalah Masa Kayamu Sebelum Datang Masa Miskinmu

Dalam kesalahan bermasyarakat, kita tentu tidak akan lepas dari interaksi dan kontak sosial. Ada atasan dan bawahan, serta ada tuan tanah dan buruh, semuanya itu hadir sebagai antonim dalam kehidupan. Sudah lumrah bahwa yang kaya mempekerjakan yang miskin agar mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini akan berjalan harmonis jika dibangun atas dasar saling memahami dan menghargai, serta tidak saling mengunggulkan.

Namun, masalah akan muncul bilamana sebagian dari kita "gila hormat". Munculnya hal tersebut bisa merembet pula ke hal-hal lain, misalnya bersikap sok dihadapan orang lain. Tak dapat dipungkiri bahwa diantara sekian banyak orang yang berharta, pasti salah satunya ada yang "gila hormat". Menurutnya, karena jubelan harta yang melingkupi kehidupannya sangatlah melimpah, maka hal tersebut menjadikan dirinya bangga, senang dimuliakan sehingga menuntut orang lain harus menghormatinya.

Bahkan, dalam keseharian, orang yang "gila hormat" selalu menunjukkan sikap yang seolah-olah dirimya haus pemberian "nilai tinggi" terhadap dirinya. Padahal jika bersikap biasa saja, menghargai orang lain, dan suka membantu, maka rasa hormat orang lain akan muncul dengan sendirinya.
Sebenarnya, kita tidak perlu mencari perhatian atau meminta penghormatan dari orang lain. Cukuplah harta itu menjadi saksi bahwa kita adalah manusia, yang mekipun tanpa itu semua, kita bisa memiliki kehormatan, jika mampu berbuat baik kepada orang lain.

Bagaimana jika penduduk suatu negeri semuanya gila hormat? Al-Farabi mengatakan negeri yang tidak baik itu memiliki banyak macam. Misalnya, negeri ysng fasik, negeri yang bodoh dan sesat.
Jika harta telah menghiasi hari-hari kita, lebih jadikanlah itu sebagai sarana untuk menyempurnakan kehidupan dan urusan dengan Allah SWT., dalam arti memanfaatkan harta itu demi kepentingan duniawi dan ukhwari. Lebih baik kita terhormat di sisi-Nya daripada dmata sesama manusia. Meraih nilai-nilai kehormatanmu melalui ibadah, amal, serta kebaikan yang meluas dan menyeluruh, itu lebih baik.

Jagalah Masa Hidupmu Sebelum Datang Masa Kematianmu

“ Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa kayamu sebelum tiba miskinmu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan hidupmu sebelum tiba kematianmu” (HR. Bayhaqi)
Mati adalah suatu ketetapan dari Allah SWT kepada setiap makhluk yang bernyawa. Bila seorang sudah diputuskan untuk mati oleh Allah SWT, maka matilah dia tanpa dapat menghindar, tanpa bisa ditunda-tunda, atau bahkan dimajukan. Ia akan mati dalam keadaan apapun, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka. Sebaliknya, keinginan seseorang untuk mati, dalam keadaan yang galibnya bisa menimbulkan kematian sekalipun, bila Allah SWT belum metentukan ajal untuknya, maka ia tetap tidak akan mati.
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izi Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” (Ali Imran 145)
“.. Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan” (Al Baqarah 258)
“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada didalam benteng yang kokoh” (An Nisaa’ 78)
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu” (Al Jumu’ah 8)
“Maka jika telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat memajukannya” (al-A’raf 34)
PERSIAPAN SEBELUM AJAL TIBA, Jaga dan Upgrade Iman dan Taqwa
 Karena pada dasarnya iman seseorang itu kadang naik dan kadang turun;
“Iman itu kadang naik kadang turun, maka perebaharuilah iman kalian dengan la ilaha ilallah” (HR Ibn Hibban)
Sebagai Muslim/ah kita wajib menjaga iman kita agar tetap eksis, agar tetap mengakar di hati sanubari sampai akhir hayat. Tentang wajibnya menjaga iman, Allah telah berfirman dalam QS Al-Imran:102
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar- benar takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”
Bukti seorang yang beriman adalah taqwa, sedangkan kadar taqwa dapat diketahui dari seberapa taat kita kepada aturan dan hukum Allah SWT yaitu Islam.
Dengan menjaga ketaatan kita kepada aturan Islam, maka ketika ajal tiba sudah ada modal bagus untuk kita bawa di alam berikutnya.
Iman dan taqwa yang terealisasikan dengan taat kepada aturan Islam akan mudah untuk kita jaga dan upgrade ketika kita senantiasa mengingat kematian. Orang yang senantiasa ingat akan mati, ia akan senantiasa hati-hati dalam setiap pikiran, ucapan, dan perbuatannya.
“Secerdik-cerdik manusia adalah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat” (HR. Ibnu Majah)
Penyesalan itu selalu datang di belakang, kesempatan itu sangat jarang dan hampir tidak datang kedua kalinya. Ketika gelar almarhum sudah disandang, disitulah akhir dari semua kesempatan. Putuslah semua amal kita kecuali sedekah jariyah, ilmu yang bermanfat, dan doa anak sholeh. Saat itu penyesalan yang amat sangat dalam pun tidak akan membantu kita sedikitpun.
PERSIAPAN SEBELUM AJAL TIBA, Jauhkan Diri dari Maksiat dan Mara Bahaya
Apa jadinya ketika kita sedang asik maksiat, dengan tidak diduga Izroil mencabut ruh kita ? Naudzubillahi mindzalik… Sungguh ini termasuk cara mati yang sangat buruk (su’ul khatimah)
Secara sengaja menuju keadaan yang membahayakan keselamatan jiwa seperti berkendara ugal-ugalan, bencana alam dsb sama saja bunuh diri. Dan dalam Islam bunuh diri itu sangat dilarang.

Sabtu, 26 November 2016

Jagalah Masa Sehatmu Sebelum Datang Masa Sakitmu

SAUDARAKU,
Syukur nikmat dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Syukur hati dilakukan dengan cara meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberinya kesehatan. Syukur lisan dilakukan dengan cara mengakui kenikmatan tersebut dan melafalkannya serta memuji Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan alhamdulillah.
Adapun syukur dengan anggota badan dilakukan dengan mempergunakan nikmat kesehatan itu dalam perkara-perkara ketaatan dan menghindarkannya dari kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (٧)
“Jika engkau bersyukur, maka sungguh Allah akan menambahkan nikmat-Nya, dan jika kamu kufur maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Saudaraku,
Manfaatkanlah masa sehat, sebelum datang masa sakit.
Semangat dalam menjalankan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat di saat sehat, itulah yang dituntut dari diri kita masing-masing. Sungguh, benar-benar tertipu orang yang mempergunakan waktu sehat untuk bermaksiat dan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Saudaraku,
Pergunakanlah kesehatanmu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Manfaatkanlah anggota tubuhmu untuk rukuk, sujud, dan berdoa kepada Allah Ta’ala. Janganlah engkau gunakan untuk beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Dan jangan pula mengundang kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya azab Allah subhanahu wa ta’ala sangatlah pedih.
Dan sungguh, jika kita biasa melakukan kebaikan di waktu sehat, Allah subhanahu wa ta’ala akan selalu mencatat kebaikan tersebut di saat sakit. Misalnya, di saat sehat, engkau terbiasa shalat di masjid, maka di saat engkau sakit dan tidak bisa ke masjid, engkau akan diberi pahala seperti keadaan ketika engkau sehat. Artinya, engkau tetap diberi pahala shalat di masjid, karena tidak ada yang menghalangimu pergi ke masjid kecuali sakit yang engkau alami. Masya Allah! Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala adalah Maha Pemurah.
Saudaraku,
Jauhi maksiat dan jangan tertipu!
Apalah arti sebuah kesehatan kalau hanya digunakan untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apalah arti tubuh yang kuat, badan yang kekar kalau kelak akan dipakai sebagai bahan bakar api neraka bila kita tidak bertaubat kepada-Nya.
Wahai saudaraku, sadarilah, manusia itu lemah!
Apabila badanmu sehat, tapi kamu berbuat kemaksiatan, maka sesungguhnya kamu adalah orang yang sakit. Mengapa? Karena orang yang sehat adalah yang sehat jiwa dan raganya. Sehatnya jiwa adalah dengan menjauhi kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena maksiat adalah penyakit. Apabila jiwamu sehat, maka tubuhmu akan sehat pula, insya Allah. Maka dari itu, jauhilah kemaksiatan, niscaya engkau akan merasakan nikmat sehat lahir batin.
Saudaraku,
Berdoalah kepada Rabb-mu agar selalu diberi kesehatan.
Jangan lupa, doa adalah senjata bagi orang yang beriman. Doa adalah ibadah, maka mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar engkau diberi kesehatan. Apabila engkau sakit, jangan putus asa dalam berdoa dan berbaiksangkalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mintalah kesembuhan hanya kepada-Nya. Karena Dialah asy-Syafi (Yang Mahakuasa untuk memberikan kesembuhan).
Saudaraku,
Jagalah kesehatanmu, tempuhlah sebab dan jauhi pantangan!
Kesehatan adalah nikmat yang harus disyukuri dan dijaga. Kalau engkau menginginkan sehat, maka selain engkau bersandar dan meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka engkau harus menempuh sebab dan menjauhi pantangan. Apa itu?
Tempuhlah sebab yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan diperbolehkan oleh syariat. Janganlah engkau menempuh apa-apa yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala, karena pasti hal itu akan membahayakanmu.
Di antara sebab-sebab yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan adalah mengonsumsi makanan yang baik dan halal. Beristirahat dengan cukup dan janganlah melupakan aktivitas olah raga seperti lari, berenang, melempar, berkuda, dll. Semua sebab-sebab menuju kesehatan tersebut tentunya dilakukan sesuai aturan dan tidak berlebihan.
Lalu apa pantangannya?
Saudaraku,
Pantangannya adalah jangan engkau lakukan perbuatan yang telah Allah Ta’ala haramkan. Jangan mengonsumsi makanan yang haram seperti babi, anjing, minuman yang memabukkan atau berlebihan dalam makan. Hindari berlebih-lebihan dalam makan. Jauhi pula kemaksiatan. Pantangan lainnya adalah berobat dengan jalan yang diharamkan, seperti mendatangi dukun atau paranormal atau berobat dengan sesuatu yang dilarang seperti jimat, mantra-mantra, benda-benda najis, dll.
Saudaraku,Ddemikianlah yang sebaiknya dilakukan seorang muslim dalam menjaga kesehatannya. Dia akan memanfaatkan kesehatan yang dianugerahkan kepadanya dengan baik. Selalu berusaha untuk mensyukurinya dengan menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi kemaksiatan. Kemudian, menyadari dengan sepenuh hati, bahwa kesehatan adalah nikmat dan anugerah Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat besar. Dia juga meyakini, bahwa kelak di akhirat, Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya dan meminta pertanggungjawaban atas nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita para hamba-Nya.
Saudaraku,
Sadarkah kita? Dan sudahkah kita mempersiapkan jawabannya?
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu memberikan kepada kita taufik dan hidayah-Nya untuk memanfaatkan nikmat sehat ini dalam ketaatan. Dan semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lalai, tertipu dan merugi.
Wallahu A’lam bish shawab. [Abu Umar Ibrahim, Sumber: sumbermateriku]

Jagalah Masa Muda Sebelum Datang Masa Tua

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya

Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya para pemuda  yang telah mengisi lembaran hidupnya dengan prestasi gemilang,  sehingga mulia dihadapan Allah dan juga mulia dihadapan manusia. Mereka diantaranya sepreti  Ibrahim, Yusuf, Musa ‘alaihimus salam serta ashaabul kahfi sebagaimana kisah mereka telah disebut dalam al Qur’an. Allah berfirman tentang ashaabul kahfi,
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (QS. Al- Kahfi: 10)
Begitu juga di permulaan lembaran sejarah Islam, yang tak kosong dari catatan kehidupan pemuda-pemuda pilihan, sebut saja Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu(duta Rasulullah pertama di Madinah) , Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu (orang kepercayaan umat ini) dan yang lainnya.
Sebelum Engkau Menyesal
Banyak hadist dari Rasulallah yang menunjukan betapa pentingnya masamuda. Diantaranya adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
Gunakanlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu1
Masa muda adalah masa yang penuh dengan berbagai warna bagi setiap anak manusia. Masa transisi dimana seorang pemuda berusaha  mencari jati dirinya. Dan juga merupakan masa keemasan bagi setiap orang untuk mengukir prestasi dalam lebaran hidupnya. Namun disayangkan, tak sedikit juga yang telah menghancurkan hidupnya dengan menyia-nyiakan masa tersebut, kehilangan jati dirinya dimasa muda dan berujung  penyesalan di masa tua.
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair,
ألا ليت الشباب يعود يوماً *** فأخبره بما فعل المشيب
Sekali-kali tidak, andaikata masa muda itu berulang barang satu hari saja. Akan aku beritahukan penyesalan orang-orang (tua) yang telah beruban2
Jangan hanya berangan
Masa muda, perahu untuk menuju kesuksesan di hari tua. Jangan engkau sia-siakan! Dan jangan pula hanya engkau isi dengan angan-angan kosong! Berangan untuk selalu hidup bahagia tanpa perjuangan, sebagaimana perkataan sebagian orang “kecil manja-manja, muda foya-foya , tua kaya-raya, mati masuk surga”!??
Setiap kesuksesan memiliki jalan untuk mencapainya. Jika engkau ingin cerdas maka rajinlah belajar, jika engkau ingin kaya maka rajinlah berkerja, jika engkau ingin masuk surga maka tempuhlah jalannya. Sangat aneh jika seseorang ingin sukses tetapi  tidak mengempuh jalannya atau malah menempuh jalan sebaliknya. Alangkah indahnya untaian sya’ir imam asy Syafii rahimahullah dalam diwannya,
تَبْغي النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ طَرِيقَتَهَا ** إنَّ السَّفِينَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى اليَبَسِ
Engkau mengendaki kesuksesan namun engkau tidak menempuh jalannya..Sesungguhnya perahu tidak berjalan diatas padang pasir3
Jagalah masa mudamu
Jagalah masa mudamu, karena engkau akan ditanya tentangnya. Engkau akan ditanya tentang setiap hal yang telah engkau kerjakan di masa muda, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
لا تزول قدم العبد فى يوم القيامة حتى تسئل عن اربع عن عمره فيم افناه وعن شبابه فيم ابلاه وعن ماله من اين اكتسبه وفيم انفقه وعن علمه ماذا عمل ب
Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskan; tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya.4
Jagalah masa mudamu dengan berhias ibadah kepadaNya
Saudaraku, jangan tertipu dengan banyaknya pemuda yang tenggelam dalam syahwat dunia di zaman kita ini. Hiasilah dirimu dengan ibadah kepada Tuhanmu. Apakah engkau tidak ingin menjadi salah satu orang yang mendapat naungan dari Allah di hari kiamat kelak? Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ ..
Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya: Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah..
Isilah masa mudamu dengan mencari ilmu
Selain amal shalih, sebaik-baik bekal yang harus dipersiapkan seorang pemuda adalah ilmu. Karena ilmulah yang akan menerangi kehidupan seseorang. Ilmu akan mengantarkan seseorang kepada pemahaman yang benar terhadap agamanya . Dimana kepahaman terhadap agama merupakan salah satu  tanda kebaikan pada seseorang, sebagaimana Rasulullah bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْن
“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.”6
Hendaknya kita isi masa muda kita dengan mencari ilmu. Jangan sampai kita sibuk dengan hal lain yang melalaikan dari ilmu. Jangan sampai juga kita putus asa karena merasa berat menuntut ilmu, semua butuh perjuangan. Tidak heran jika al Imam asy Syafi’i rahimahullah sampai mengatakan,
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً          تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar
Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya
Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda
Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat